==CAHAYA KELAHIRAN==

gIVE iNSpIraTion….

kRITIK mANIS, kRitik Pedas

Posted by lidyacahayakelahiran on June 14, 2007

Kritik Manis,Kritik Pedas
Seperti juga Kripik ada yag pedas ada yang manis.
Kita tidak bisa menuruti keinginan semua orang yang berbeda-beda bahkan terkadang bertentangan antara keinginan yang satu dengan yang lain.

Seperti saat mengisi kajian/ training. Saat itu objek yang dihadapi masih usia smp-smu.Beberapa mbak-mbak panitia yang usianya 25 tahun ke atas mengkritik materinya terlalu banyak lucunya, terlalu banyak cerita. Tapi adik-adik justru mengkritik supaya lebih rame, lebih banyak cerita . Nah lho…yang musti diturutin yang mana?
Di kesempatan lain, di kajian rutin salah satu smp yang diisi teman-teman KiaSs dari kesan, saran dan kritik yang terkumpul di kelas yang sama dengan pemateri yang sama. Ada yang bilang, mbaknya lebih tegas supaya suasana kelas tenang.Tapi yang lain bilang" kurang rame, mbaknya terlalu teges alias kejam, kita ngomong gak boleh mbak…".Ada yang bilang,"dibanyakin cerita-ceritanya ya mbak…".Tapi ada yang bilang juga, " mbaknya jangan terlalu banyak cerita, nanti kita ngantuk"
Wadaw…

Mungkin di sini yang dibutuhkan komunikasi dan proporsional.
Tapi yakinlah jika kita berada di jalan lurus Alloh.Maka Alloh akan menolong kita. Dan menyuruh penduduk langit dan bumi untuk mencintai kita. Sebaliknya saat kita keluar dari jalanNya. Dan <naudzubillah> kita menjadi hamba yang munafik, fasik maka Alloh akan mengumumkan pada langit dan bumi untuk membenci kita.

Ada banyak kisah.
Banyak teladan yang diberikan Rasul dan para sahabat.

Saya jadi teringat tentang kisah Usamah bin Zaid, putra Zaid bin Haritsah. Yang saat diangkat menjadi pimpinan, banyak yang membicarakan karena dianggap tidak pantas. Namun Rasululloh memberi pemahaman yang lurus bahwa kita tidak boleh melihat dengan pesimis hanya karena hal tertentu sehingga menilainya menjadi subjektif. Karena kita punya standar dalam hal menilai yakni syara’dalam hal ini ketaqwaan.

Atau bahkan Rasululloh sendiri sempat ‘dibicarakan di belakang’ oleh Anshor  pasca kemenangan kaum muslimin di perang Hunain.Rasululloh mengembalikan harta ghanimah kepada Malik bin ‘Auf  saat Malik <pemimpin kaum Hawazin yang menyerang kaum muslimin sehingga pecah perang hunain> menyatakan dirinya muslim bahkan ditambah dengan 100 unta.Tak hanya Malik, muallaf yang lain pun diberlakukan demikian. Sungguh, Rasululloh berada di puncak kearifan dan kedermawanan. Tapi beberapa sahabat Anshor membicarakan di belakang dan tidak puas dengan apa yang dilakukan Rasul.
Maka dipanggillah Sa’ad Bin Ubadah, pemimpin kaum anshor.Dan ternyata sa’ad bersikap sama dengan kaumnya. Maka RASUL memerintahkan Sa’ad untuk mengumpulkan kaum Anshor.Dan disadarkan kembali tentang bagaimana keadaan Anshor dalam kesesatan sebelum Hidayah Alloh datang pada mereka.Dan Rasul sangatlah mencintai Anshor. Dan menyadarkan untuk lebih memilih Rasul dibanding harta.Belum selesai pidato Rasul, Kaum Anshor menangis dengan tangisan yang dasyat. Air mata mereka membasahi jenggot mereka. Subhanalloh.

Ada kisah Umar yang dikritik seorang wanita di depan banyak orang. Tapi toh Umar menerimanya karena yang disampaikan sesuai dengan Syara’ dan Umar adalah orang yang sangat takut menyalahi syara’.

Terkadang apa yang kita lakukan, tanggapan dari orang tidak selalu sesuai dengan maksud dan keinginan kita. Apalagi jika sudah tertanam hal yang negatif, sehingga penilaian tidak objektif. Saya sendiri sedang berusaha untuk menjadi orang yang terbuka akan kritik dan senang terhadap kritik sebagaimana Umar Bin Khattab.

Tapi kritik tidaklah bisa ditelan mentah-mentah harus dikembalikan pada syara’. Jelas kita harus melakukan intropeksi. Siapapun yang mengkritik kita, yang membangun dan membuat lebih baik  jelas harus dijadikan masukan yang positif. Yang tidak membangun justru membuat jauh bahkan melanggar syara’ lupakan saja.

Dulu, saat masih aktif di organisasi di SMU saya. Adik angkatan saya yang akhwat mengadukan tentang ikhwan yang semena-mena dalam mengambil keputusan, tidak mau mendengarkan saran akhwat, bahkan berjalan sendiri, terlalu keras saat amar ma’ruf, dan bla..bla…
Yang ikhwan juga merasa hal yang demikian pada akhwat.

What’s the problem?
karena dua-duanya punya sentimen negatif masing-masing. Sehingga penilaiannya menjadi tidak objektif tapi sudah disertai dengan bumbu-bumbu sentimen yang tidak sehat.

Waktu angkatan saya sebenarnya juga terjadi hal yang demikian–pada beberapa orang–. Jadi misalnya saat akhwatnya yang menerbitkan buletin dulu—para akhwat menganggap ikhwan terlalu lamban—maka ikhwannya bilang tulisan akhwatnya gak mutu dan bla..bla..Sebaliknya saat ikhwannya yang menerbitkan akhwatnya juga bilang tulisannya aneh ,jelek ,kurang ini kurang itu. Untunglah pak Ketum– saat itu akhi Miftahul Huda– adalah orang yang sangat bijaksana dan objektif. Beliau menilai dengan objektif. Buktinya apa?Beliau tetap memberi kritik pada hal-hal yang memang perlu dikritik dan solusinya. Dan juga memberi ‘reward’ pada hal-hal yang memang secara objektif bagus.Bukan malah saling menjatuhkan. Karena mau jadi organisasi amar ma’ruf nahi munkar yang bagaimana kalau saling menjatuhkan. Dan menutup telinga rapat-rapat dari kritik yang membangun.

Kritik pedas akan menjadi manis jika disampaikan dengan ma’ruf. Dan tidak menjatuhkan bahkan menghina dan menyakitkan hati.Tetapi membangun , ini bisa dilihat jika kritik yang dilontarkan muncul dari pengamatan yang mendalam bukan hanya kesimpulan sementara apalagi hanya dugaan. Dan tentu saja kritik tersebut disertai dengan solusinya.

wallohu a’lam.

3 Responses to “kRITIK mANIS, kRitik Pedas”

  1.   Apu' Says:

    Tak ada cermin nan tak retak
    tak ada ranting nan tak patah
    tak ada tanah nan tak rekah
    tak ada bunga nan tak layu

    manusia hanyalah makhluk
    yg kadang terpeleset

    pabila ada sahabat nan mentausiyahi
    duhai indahnya berbagi
    berbagi amal kebaikan

    manusia memang tempatnya silaf

  2.   ' Firdaus ' Says:

    Assalmu’alaikum

    Inget cerita unta dan Ayah-anak?

    Dikisahkan ketika seorang ayah berencana menjual unta ke kota, dan mengajak putra kesayangannya. karena kota yang dituju lumayan jauh, sang ayah memutuskan untuk menaiki unta tersebut bersama anaknya.
    Perjalanan pun dimulai, saat memasuki sebuah desa, mereka bertemu dengan seseorang, “Wahai fulan, tega nian kalian, tidakkah kalian kasihan melihat unta tersebut berjalan (agak) terseok-seok karena bebannya terlalu berat?”
    Setelah berpikir sebentar, akhirnya sang Ayah mengikuti saran orang tersebut dan dia turun dari unta, sementara sang anak tetap di punggung unta.
    Memasuki desa berikut, mereka bertemu dengan seseorang yang rupanya memperhatikan tingkah mereka. “Wahai nak, tega sekali kamu membiarkan ayahmu berjalan menuntun unta, padahal kamu enak-enakkan duduk diatas unta?”
    Bimbang dengan perkataannya, sang anak turun dari unta dan berganti ayahnya yang menaiki unta, dan melanjutkan ke desa berikut. Seperti halnya desa sebelumnya, mereka bertemu lagi dengan pemerhati ligkungan.
    “Dasar Ayah yang dzolim, baru kali ini kulihat seorang ayah yang tak punya hati!”
    Mulai merasa kesal, akhirnya mereka berdua setuju untuk tidak menaiki unta tersebut dan terus menuju kota.
    Lagi, mereka bertemu dengan manusia lain yang usil,
    “Wah-wah kalian berdua, bukankah unta yang ada di belakang kalian itu bisa kalian naiki? mengapa mesti bersusah-susah dengan berjalan kaki?”
    Kali ini mereka benar-benar senewen, dan akhirnya memutuskan untuk pulang tanpa berhasil menjual unta tersebut.

    “Kritik pedas akan menjadi manis jika disampaikan dengan ma’ruf. Dan tidak menjatuhkan bahkan menghina dan menyakitkan hati.Tetapi membangun, ini bisa dilihat jika kritik yang dilontarkan muncul dari pengamatan yang mendalam bukan hanya kesimpulan sementara apalagi hanya dugaan. Dan tentu saja kritik tersebut disertai dengan solusinya.”

    Setuju banget!!!

    wassalamu’alaikum

  3.   ' ' ' 'Nur Says:

    waalaikum salam
    iya ana jadi ingat lagi kisah ayah dan anaknya plus hewan tunggangannya

    jazakalloh khoir

Leave a Reply



XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>